Loading...

Oleh: Nursalmi S,Ag 
Penulis Buku Madrasah Ramadan 

Setiap manusia dilahirkan dalam keadaan suci. Secara fitrah manusia adalah baik dan melakukan sesuatu yang baik pula. Jika seseorang melakukan suatu perbuatan jahat, secara fitrah dia pasti menyadari perbuatannya itu tidak benar. Hatinya juga menolak. Jika dia kembali ke fitrahnya, maka dia tidak akan melakukan lagi perbuatan buruk. Justru dia akan selalu melakukan perbuatan baik.

Perbuatan baik adalah ihsanul amal. Apa itu ihsan? Ihsan adalah seseorang yang menyembah Allah seolah-olah ia melihat-Nya. Jika ia tidak mampu membayangkan melihat-Nya, maka orang tersebut merasakan bahwa sesungguhnya Allah melihat perbuatannya.

Dengan demikian orang tersebut pasti akan melakukan perbuatan dengan sebaik-baiknya. Karena dia menyadari bahwa amalan yang sedang dia lakukan berada dalam pantauan Allah. Allah melihat amalannya.  

Perbedaan iman, Islam dan ihsan dijelaskan dalam sebuah hadits. Umar bin Kaththab r.a berkata, “Suatu ketika kami duduk-duduk bersama Rasulullah saw, tiba-tiba muncullah seorang laki-laki berpakaian putih dan rambutnya hitam kelam, tidak terlihat padanya tanda-tanda bekas perjalanan jauh dan tidak seorang pun diantara kami yang mengenalnya. Lalu duduklah ia di hadapan Nabi, lalu kedua lututnya disandarkan pada kedua lutut Nabi dan meletakkan kedua tangannya di atas kedua paha Nabi.”  

Kemudian ia berkata, “Hai Muhammad, beritahukan kepadaku tentang Islam.” Rasulullah saw menjawab, “Islam adalah engkau bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, mendirikan shalat, membayar zakat, berpuasa pada bulan Ramadan, dan mengerjakan ibadah haji ke Baitullah jika engkau mampu melakukannya.” Orang itu berkata, “Engkau benar.” Kami pun heran, ia bertanya lalu membenarkannya.

Orang itu berkata lagi, “Beritahukan kepadaku tentang iman,”.  Nabi menjawab, “Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, hari Kiamat, dan beriman kepada takdir Allah yang baik atau pun yang buruk.” Orang itu berkata, “Engkau benar.”

Orang itu berkata lagi, “Beritahukan kepadaku tentang ihsan.” Nabi menjawab, “Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya,  jika engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia pasti melihatmu.” Orang itu berkata lagi, “Beritahukan kepadaku tentang hari Kiamat.” Nabi menjawab, “Yang ditanya tidaklah lebih tahu dari pada yang bertanya.”

Orang itu pun berkata lagi, “Beritahukan kepadaku tentang tanda-tandanya, Nabi menjawab, “Jika budak perempuan telah melahirkan tuannya; jika engkau melihat orang-orang yang tak beralas kaki, tanpa memakai baju, miskin, dan pekerjaannya menggembala kambing, telah berlomba-lomba mendirikan bangunan yang megah.”
Kemudian orang itu pergi, aku pun terdiam. Beberapa saat kemudian Nabi berkata kepadaku “Wahai Umar, tahukah kamu siapakah orang yang bertanya tadi?.” Aku menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.” Nabi berkata, “Dia adalah Malaikat Jibril. Ia datang untuk mengajarkan kepadamu tentang agamamu.” ( HR. Muslim ) 

Seseorang yang mengaku dirinya beriman kepada Allah Swt pasti dia muslim. Dia akan melakukan amalan-amalan Islam secara lahir untuk merealisasikan imannya. Karena iman itu diikrarkan dengan lidah, ditasdikkan dengan hati dan diamalkan dengan perbuatan. Jika iman hanya diucapkan, tetapi tidak dibuktikan dengan amal perbuatan, itu berarti tidak sejalan antara iman dan Islamnya, imannya masih sangat lemah. 

Iman, Islam dan ihsan itu sangat berkaitan. Karena Islam sebagai amalan fisik, sementara iman amalan hati. Untuk melakukan suatu amalan yang baik (ihsanul amal) harus diiringi dengan keikhlasan hati. Jika amalan yang dilakukan hanya asal-asal saja, tanpa adanya keikhlasan, berarti imannya lemah meskipun dia muslim. 

Ihsanul amal (amalan baik) dilakukan dengan cara ikhlas kepada Allah dan ittiba’ Rasul (menguti sunnah Rasulullah). Seorang muslim harus melakukan amalan yang baik dengan penuh keyakinan. Sesuai dengan makna ihsan yaitu melakukan amalan seolah-olah kita melihat Allah, apabila tidak mampu, maka kita merasakan bahwa Allah sedang melihat kita. 

Dalam bulan Ramadhan, kita berpuasa dan menghidupkan malam dengan ibadah-ibadah sunnah dengan penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah, niscaya akan diampuni dosa-dosa yang telah lalu. Ketika kita mengharapkannya, pasti kita akan melakukan amalan dengan sebaik mungkin, karena kita menghadirkan Allah dalam setiap amal ibadah, merasakan seolah-olah kita sedang melihat Allah. Kita merasakan bahwa Allah sedang melihat kita. Kita akan melakukan amalan dengan sebaik mungkin, karena merasakan sedang dipantau oleh Allah, dan tidak akan berani melakukannya dengan asal-asalan, apalagi melakukan kesalahan. 

Ibarat seorang pembantu yang sedang melakukan suatu pekerjaan di hadapan majikan, pasti dia akan melakukannya dengan sebaik mungkin. Tidak berani melakukan kesalahan, karena takut hukuman dari sang majikan. Ketika kita sedang melakukan suatu pekerjaan, yang di ruangan itu dipasang CCTV, pasti kita akan melakukannya dengan baik, dan tidak berani melakukan kesalahan karena ada pantauan CCTV tersebut.

Apa hubungannya ihsan dengan puasa? Tentu mempunyai kaitan yang erat. Melakukan puasa dan amalan ibadah lain di bulan Ramadhan dengan penuh keimanan, meyakini bahwa ini perintah Allah, dan hanya mengharap pahala dari Allah, pasti kita akan melakukannya dengan sungguh-sungguh dan dengan sebaik mungkin. Dengan harapan, Allah memberikan balasan yang terbaik pula. 

Oleh karena itu, hadirkan Allah dalam setiap amalan kita, khususnya di bulan Ramadhan, agar kita bisa melaksanakan amalan itu dengan sebaik mungkin. Melaksanakannya dengan sungguh-sungguh agar Allah mengampuni dosa-dosa kita; memberikan pahala berlipat ganda, sehingga habis Ramadhan kita menjadi orang  mukmin yang bertakwa, sesuai dengan tujuan puasa itu sendiri.
SHARE :
 
Top