Oleh: Tgk. Mukhlisuddin
Ketua PD IPARI Kabupaten Pidie
Ramadhan datang setiap tahun membawa cahaya, namun tidak sedikit kaum muslimin yang justru meredupkan cahayanya dengan menurunkan produktivitas. Lelah karena puasa dijadikan alasan untuk mengurangi ritme kerja, menunda tanggung jawab, bahkan bermalas-malasan. Aktivitas yang sebelumnya berjalan dinamis, perlahan melambat hanya karena perut kosong dan tenggorokan kering.Fenomena ini sangat disayangkan. Sebagai refleksi diri, penulis yang bertugas sebagai Penyuluh Agama Islam yang di ketika seorang Penyuluh Agama Islam menurun semangat membina ummat karena alasan puasa, dampaknya bukan hanya pada dirinya, tetapi pada umat yang dibinanya. Ketika guru, pekerja, karyawan, atau pelaku usaha mengendurkan etos kerja, dampaknya bersifat kolektif. Ramadhan yang semestinya menjadi bulan peningkatan kualitas diri, justru dipersepsikan sebagai bulan penurunan performa.
Padahal, puasa tidak pernah didesain sebagai penghambat produktivitas. Ia adalah madrasah pembentuk karakter. Syeh Wahbah Azzuhaili dalam al Fiqh Wa Adillatuhu menegaskan bahwa puasa memperkuat kehendak, mempertajam tekad, melatih kesabaran, serta membantu kejernihan berpikir dan ketajaman intuisi. Artinya, puasa justru membangun daya juang, bukan melemahkannya.
Rasa lemah di awal puasa hanyalah fase adaptasi. Ketika seseorang mampu melewatinya, ia akan menemukan kejernihan nalar dan kestabilan emosi yang lebih matang. Perut yang kosong tidak selalu berarti pikiran kosong. Justru dalam kondisi terkendali, fokus bisa meningkat, refleksi menjadi lebih dalam, dan keputusan diambil dengan lebih bijak.
Ramadhan juga bulan jihad dalam makna yang luas: jihad melawan hawa nafsu, jihad menegakkan disiplin, dan jihad menjaga konsistensi amal. Sejarah membuktikan bahwa pada bulan inilah terjadi Perang Badar pada 17 Ramadhan 1 Hijriah peristiwa monumental yang menunjukkan bahwa Ramadhan bukan bulan kelemahan, melainkan bulan keberanian dan kemenangan. Pasukan kaum muslimin tidak menunda perjuangan dengan alasan berpuasa. Mereka justru menorehkan sejarah gemilang di tengah keterbatasan fisik.
Nabi Muhammad sae pun memberi kabar gembira tentang dahsyatnya peluang Ramadhan. Dalam hadis riwayat Imam Bukhari disebutkan bahwa ketika Ramadhan tiba, pintu-pintu langit dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu. Ini adalah isyarat bahwa atmosfer spiritual sedang sangat kondusif untuk produktivitas amal. Tidak ada alasan untuk menurunkan intensitas ibadah, apalagi menurunkan kualitas tanggung jawab duniawi.
Produktif di bulan Ramadhan tidak hanya berarti sibuk bekerja, tetapi juga aktif dalam ibadah. Nabi bersabda: “Barangsiapa yang menghidupkan malam Ramadhan dengan iman dan penuh harap, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” Para ulama Ibnu Hajar Al Asqalani menjelaskan bahwa menghidupkan malam Ramadhan mencakup shalat tarawih dan qiyamullail. Artinya, siang produktif dalam karya, malam produktif dalam ibadah.
Lebih jauh lagi, Ibnu Rajab Al Hanbali dalam Lathaiful Maarifnya bahwa puasa paling rendah nilainya hanyalah meninggalkan makan dan minum. Jika seseorang hanya berhenti pada aspek fisik tanpa peningkatan amal, maka ia kehilangan esensi puasa yang sejati.
Memahami hadis “Naumu Shaim Ibadah (tidur orang berpuasa adalah ibadahj juga harus proporsional. Tidur bisa bernilai ibadah jika diniatkan untuk menjaga stamina demi optimalisasi ketaatan. Namun menjadikan tidur sebagai pelarian agar waktu cepat berlalu jelas bukan tujuan puasa. Ramadhan bukan bulan untuk mempersingkat aktivitas, melainkan memperluas makna pengabdian.
Karena itu, Ramadhan seharusnya menjadi momentum akselerasi, bukan perlambatan. Ia bulan pembuktian bahwa keterbatasan fisik tidak menghalangi kekuatan ruhani. Lapar dan haus bukan alasan untuk menurunkan standar profesionalisme, melainkan sarana melatih ketahanan mental.
Jika di bulan biasa kita mampu bekerja dengan baik, maka di bulan Ramadhan kita semestinya bekerja dengan lebih bernilai. Jika di bulan biasa kita beribadah sekadarnya, maka di bulan Ramadhan kita tingkatkan kuantitas dan kualitasnya. Inilah semangat jihad Ramadhan mengalahkan diri sendiri sebelum menaklukkan tantangan yang lain.
Akhirnya, Ramadhan bukan bulan bermalas-malasan, tetapi bulan membuktikan kualitas iman melalui produktivitas amal. Ia adalah bulan kemenangan, sebagaimana Badar menjadi simbolnya. Maka jangan jadikan puasa sebagai alasan untuk melemah, tetapi jadikan ia sebagai energi ruhani untuk melompat lebih tinggi dalam karya dan ketaatan.*

0 facebook:
Post a Comment