Berita Terdepan :

Your Android Phone

Your Android Phone
Redaksi Menerima Tulisan/Artikel/Opini/Berita. Kirimkan ke email : lamuribulletin@gmail.com

Jamee Kamoe

Berlangganan

Recommend on Google





Lamuri Arsip

Yang Unik Di Perayaan Muharram 1436 di Indrapuri

Perayaan Tahun Baru Islam Muharram 1436 Hijriah digelar meriah di Indrapuri. Forum Ukhuwwah Indrapuri mengadakan pawai Muharram 1436 H yang diikuti oleh peserta dari TPQ/TQA di Kecamatan Indrapuri dan Kuta Cot Glie. Pawai dimulai di Halaman Indra Alam Indrapuri. di sisi lain ada ragam keunikan dari pawai muharram tersebut yang terekam lensa Lamuri. Berikut Foto-fotonya:

















Pembukaan MTQ Aceh Besar Meriah

Lamuri-Kuta Malaka. Musabaqah Tilawatil Qur’an Ke-32 Tingkat Kabupaten Aceh Besar yang digelar di Lapangan Cot Seutui Sahamani Kecamatan Kuta Malaka berlangsung meriah. Arena lokasi pun diserbu pengunjung dan pedagang yang menjajakan makanan ringan dan jenis permainan anak lainnya. Bupati Aceh Besar Mukhlis Basyah, Jumat (24/10/2014) malam membuka langsung MTQ tersebut. 

MTQ yang diikuti oleh ratusan peserta utusan dari 23 kafilah se-Aceh Besar berlangsung hingga 31 Oktober 2014 mendatang. Sebagaimana direncanakan ada delapan cabang perlombaan yang akan dilaksanakan pada MTQ Tingkat Kabupaten Aceh Besar ke-32 tersebut meliputi Tilawah, Tahfizh, Tartil Quran, dan Tafsir Quran. Berikutnya cabang Fahmil Quran, Syarhil Quran, Khattil Quran, dan M2IQ yang digelar di beberapa tempat yang telah ditentukan panitia di kecamatan Kuta Malaka tersebut. 

Camat Kuta Malaka, Azhari SH MSi didampingi Setcam Kuta Malaka, Muhammad Basir SSTP MSi kepada wartawan menjelaskan, hingga saat ini pihaknya selaku tuan rumah juga telah siap untuk menyukseskan perhelatan keagamaan tersebut. Sesuai arahan dan bimbingan dari panitia penyelenggara di tingkat kabupaten, pihaknya juga telah menyediakan sejumlah tempat yang nantinya akan digunakan sebagai lokasi penyelenggaraan MTQ. Selain itu, panitia juga akan menempatkan kafilah dari semua kecamatan pada rumah-rumah penduduk, sehingga diharapkan penyelenggaraan MTQ Tingkat Kabupaten Aceh Besar ke-32 tersebut berlangsung sukses dan lancar. 

Menurut panitia pelaksana acara pembukaan juga disiarkan secara langsung di gelombang radio RRI Banda Aceh mulai pukul 20.30 Wib melalui Pro 1 FM 97,7 Mhz. (Abr/Hus)

Foto Terkait :


 

Pelepasan Kafilah MTQ Kecamatan Indrapuri

Lamurionline.com--Indrapuri : Camat Indrapuri Burhan S.Pd memberi arahan kepada peserta MTQ Kafilah Indrapuri dalam sesi pelepasan Kafilah MTQ Kecamatan tersebut di halaman Mesjid Besar Abu Indrapuri hari Jum'at, 24/10/14 (Hrm/Abr)

Rapat Treun Blang

Masyarakat Lampanah Kecamatan Indrapuri sedang mengadakan rapat persiapan treun u blang. Sebagian persawahan di Lampanah dialiri air irigasi dan sebagian lainnya masih tadah hujan sehingga menyulitkan petani dalam mengambil keputusan dalam hal awal mulai musim tanam. (Red)

Lensa Lamuri

L a m u r i : D a k o t a R I - 0 0 1 Seulawah adalah pesawat angkut yang merupakan pesawat ke-2 milik Republik Indonesia. Pesawat jenis Dakota dengan nomor sayap RI-001 yang diberi nama Seulawah ini dibeli dari uang sumbangan rakyat Aceh. Pesawat Dakota RI-001 Seulawah ini adalah cikal bakal berdirinya perusahaan penerbangan niaga pertama, Indonesian Airways. Pesawat ini sangat besar jasanya dalam perjuangan awal pembentukan negara Indonesia. Pesawat Dakota DC-3 Seulawah ini memiliki panjang badan 19,66 meter dan rentang sayap 28.96 meter, ditenagai dua mesin Pratt & Whitney berbobot 8.030 kg serta mampu terbang dengan kecepatan maksimum 346 km/jam. (wikipedia)

Yusuf Islam (Cat Stevens)

Cat Stevens (lahir dengan nama Stephen Demetre Georgiou, London, 21 Juli 1948, dan sekarang bernama Yusuf Islam) terutama dikenal sebagai seorang penulis lagu dari Britania Raya. Pada awal karir musiknya, Georgiou mengambil nama Cat Stevens. Sebagai Cat Stevens, ia berhasil menjual 40 juta album, kebanyakan pada tahun 1960-an dan 1970-an. Lagu-lagunya yang paling populer termasuk "Morning Has Broken", "Peace Train", "Moonshadow", "Wild World", "Father and Son", "Matthew and Son", dan "Oh Very Young". Stevens menjadi seorang mualaf dan memeluk agama Islam pada tahun 1978 setelah mengalami near-death experience. Ia lalu mengambil nama Yusuf Islam dan menjadi seorang pendakwah vokal agamanya yang baru. 

Satu dasawarsa kemudian ada kontroversi ketika ia melontarkan pernyataan mendukung fatwa yang dikeluarkan menentang penulis Salman Rushdie, dan pada tahun 2004 namanya kembali dibicarakan lagi setelah ia ditolak masuk Amerika Serikat karena nama ditemukan pada sebuah daftar tidak boleh terbang (no-fly list). Ternyata terjadi kekeliruan dan yang dicari adalah orang l a i n b e r n a m a Yo u s s o u f I s l a m . Yusuf Islam sekarang tinggal di London bersama istri dan lima anaknya di mana ia seorang anggota jamaah yang aktif. Ia mendirikan yayasan kemanusiaan Small Kindness yang mulanya menolong korban kelaparan di Afrika dan sekarang membantu ribuan anak yatim dan keluarga di Balkan, Indonesia, dan Irak. Islam juga mendirikan yayasan kemanusiaan Muslim Aid tetapi meninggalkannya sebagai Ketua pendiri pada 1999. 

Kisah Keislaman Cat Stevens (Yusuf Islam), Mantan Penyanyi Pop I n t e r n a s i o n a l & T e r k e n a l "Aku terlahir dari sebuah rumah tangga Nasrani yang berpandangan materialis. Aku tumbuh besar seperti mereka. Setelah dewasa, muncul kekagumanku melihat para artis yang aku saksikan lewat berbagai media massa sampai aku mengganggap mereka sebagai dewa tertinggi. Lantas akupun bertekad mengikuti pengalaman mereka. Dan benar, ternyata aku menjadi salah seorang bintang pop terkenal yang terpampang di berbagai media massa. Pada saat itu aku merasa bahwa diriku lebih besar dari alam ini dan seolah-olah usiaku lebih panjang daripada kehidupan dunia dan seolah-olah akulah orang pertama yang dapat merasakan kehidupan seperti itu. Namun pada suatu hari aku jatuh sakit dan terpaksa di opname di rumah sakit. Pada saat itulah aku mempunyai kesempatan untuk merenung hingga aku temui bahwa diriku hanya sepotong jasad dan apa yang selama ini aku lakukan hanya untuk memenuhi kebutuhan jasad. Aku menilai bahwa sakit yang aku derita merupakan cobaan ilahi dan kesempatan untuk membuka mataku. Mengapa aku berada disini? Apa yang aku lakukan dalam kehidupan ini? Setelah sembuh, aku mulai banyak memperhatikan dan membaca seputar permasalahan ini, lantas aku membuat beberapa kesimpulan yang intinya bahwa manusia terdiri dari ruh dan jasad. Alam ini pasti mempunyai Ilah. 

Selanjutnya aku kembali ke gelanggang musik namun dengan gaya musik yang berbeda. Aku menciptakan lagu-lagu yang berisikan cara mengenal Allah. Ide ini malah membuat diriku semakin terkenal dan keuntungan pun semakin banyak dapat aku raih. Aku terus mencari kebenaran dengan ikhlas dan tetap berada di dalam lingkungan para artis. Pada suatu hari temanku yang beragama Nasrani pergi melawat ke masjidil Aqsha. Ketika kembali, ia menceritakan kepadaku ada suatu keanehan yang ia rasakan di saat melawat masjid tersebut. Ia dapat merasakan adanya kehidupan ruhani dan ketenangan jiwa di dalamnya. 

Hal ini berbeda dengan gereja, walau dipadati orang banyak namun ia merasakan kehampaan di dalamnya. Ini semua mendorongnya untuk membeli al- Qur'an terjemahan dan ingin mengetahui bagaimana tanggapanku terhadap al- Qur'an. Ketika aku membaca al-Qur'an aku dapati bahwa al-Qur'an mengandung jawaban atas semua persoalanku, yaitu siapa aku ini? Dari mana aku datang? Apa tujuan dari sebuah kehidupan? Aku baca al- Qur'an berulang-ulang dan aku merasa sangat kagum terhadap tujuan dakwah a g a m a i n i y a n g m e n g a j a k u n t u k menggunakan akal sehat, dorongan untuk berakhlak mulia dan akupun mulai merasakan keagungan Sang Pencipta. Semakin kuat perasaan ini muncul dari jiwaku, membuat perasaan bangga terhadap diriku sendiri semakin kecil dan rasa butuh terhadap Ilah Yang Maha Berkuasa atas segalanya semakin besar di dalam relung jiwaku yang terdalam. 

Pada hari Jum'at, aku bertekad untuk menyatukan akal dan pikiranku yang baru tersebut dengan segala perbuatanku. Aku harus menentukan tujuan hidup. Lantas aku melangkah menuju masjid dan mengumumkan keislamanku. A k u m e n c a p a i p u n c a k ketenangan di saat aku mengetahui bahwa aku dapat bermunajat langsung dengan Rabbku melalui ibadah shalat. Berbeda dengan agama-agama lain yang harus melalui perantara.” Demikianlah kisah Cat Stevens yang lagu “Morning Has Broken” sempat menduduki anak tangga Top 10 tingkat internasional dimasa kejayaannya. Sejak masuk Islam kemudian berganti nama menjadi Yusuf Islam, dan kini waktunya ia habiskan untuk melakukan aktifitas d a k w a h d a n p e r j u a n g a n u n t u k kemaslahatan agama ini. Ia ikut andil di dalam berbagai lembaga dan yayasan Islam yang bergerak di bidang dakwah dan sosial. Semoga Allah memberinya ganjaran yang baik atas sumbangsih yang telah ia berikan kepada kita, agama Islam dan kaum muslimin. 

Diposkan oleh Jihaduddin Fikri Amrullahdi 23.11

Drainase 550Meter, Dana Rp 80 Juta

Lamuri-Indrapuri-Pembangunan saluran drainase di gampong cureh kecamatan indrapuri aceh besar. Pengerjaan yang dilakukan melalui proses penunjukan terhadap program pemerintah dengan dana yang bersumber dari program n a s i o n a l p e m b e r d a y a a n m a s y a r a k a t d a n b a n t u a n k e u a n g a n p e u m a k a m u gampong (PNPM-MP Dan BKPG). 

Praktis, Drainase dengan nilai Rp 80 juta dengan panjang 550 meter itu harus dilaksanakan secara transparan karena menggunakan anggaran p u b l i k . S e h i n g g a , pengerjaannya harus dikerjakan sesuai dengan waktu yang ditentukan dalam RAB (Rencana Anggaran Belanja). Kepala tukang, Khusmayadi mengatakan untuk mempercepat pengerjaan tersebut. Pihaknya telah mengatur puluhan pekerja untuk menggali saluran lebih kurang 20-30 meter per hari. Itu mengingat kondisi dan cuaca yang tidak menentu. Termasuk hari ini para pekerja telah melakukan pengecoran. “ ini kan musim hujan, jadi kalau kondisi hujan dapat menghambat penyelesaian pengerjaan saluran drainase. Apalagi kalau hujan lebat. Sebab pembuatan saluran drainase ini agar bisa mengatasi kebanjiran supaya tidak banyak d i g e n a n g i a i r . ” Pungkasnya. 

Dikatakan pengerjaan drainase yang sudah berlangsung selama satu minggu. Tukang dan tenaga kerjanya akan berusaha menyelesaikan saluran tersebut dalam tempo kurang lebih 30 hari. Jika tidak ada hambatan di luar perkiraan. Di ungkapkan adanya kendala berupa hujan bahkan kedepan berhadapan lagi dengan hari raya idul adha. Kata askri, selaku sekretaris desa (sekdes) membuat saluran bakal tidak sempurna jika kondisi tergenangi air.(Mz)

Reportase Khusus - Jejak “Atjeh” di Malasyia dan Pattani Thailand

Reported By Abrar

“Atjeh” memang unik dan punya sejarah yang luas hingga ke mancanegara. Mengenal suku Aceh juga unik dengan berbagai Etnis di dalamnya, ada Gayo, Aneuk Jamee, Kluet, Alas, Tamiang, Simeulu dan Singkil. Menurut sejarah yang pernah redaksi baca, suku Aceh juga terbagi dalam beberapa “Kawom” yang dikenal dengan “Sukee”. Ada sukee Lhee Reutoh, Sukee Imuem Pheut, Sukee Tok Batee dan Sukee Ja Sandang. Asal mula orang “Atjeh” pun unik untuk dibicarakan. Mulai dari Lakap “Atjeh”, “Negeri Serambi Mekkah” dan masih banyak lainnya mengenai asal muasal orang Aceh. Bahkan ada sejarah yang menyebutkan suku Asli Aceh yakni suku Mante yang konon katanya masih ada hingga kini di pedalaman hutan rimba di Aceh, seperti keberadaan “Rumoh Dua Blah” di P a n t e e S e u m e u l e u k , l e t a k perkampungan tersebut di kawasan hutan antara Jantho dan Tangse. Hal ini dibuktikan dengan ditemukan bekas persawahan dan kuburan. Entah benar atau tidaknya cerita itu, berpulang kepada orang yang bercerita dan mengalaminya. 

N a m u n , d i s i n i k i t a t i d a k membicarakan asal muasal orang Aceh. tapi sisi sejarah islamnya lebih kita utamakan. Beberapa waktu lalu Pemimpin Redaksi Buletin Lamuri Abrar, S.Pd dan beberapa rekan berkunjung ke Malasyia dan Thailand. Ternyata di sana banyak para ulama Aceh jaman dulu yang telah lama melanglang buana ke Thailand dan Malasyia untuk mendakwahkan agama yang mulia, yaitu Islam. Dari beberapa referensi sejarah dan bukti berupa kuburan orang Aceh, tahulah kita bahwa di dua negara tersebut orang aceh dikenal sebagai bangsa yang besar dalam sejarah perkembangan islam. 

Menurut sejarah, sejak dibuka oleh Kapten Francis Light pada tahun 1786, pulau yang berada di jalur lintasan laut strategis di pantai barat semenanjung Malaysia ini banyak disinggahi oleh bangsa-bangsa asing hingga akhirnya mereka berusaha dan menetap disana. Kehadiran pelbagai bangsa dan etnis, membentuk sifat kosmopolitan generasi yang mendiami Pulau Pinang. Selain 3 kaum utama yaitu China, India dan Melayu. Negeri ini juga turut menjadi tempat berkumpulnya bangsa-bangsa lain dari Asia Tenggara dan Eropah. Suku bangsa Aceh adalah salah satunya, selain suku Jawa, Bugis dan Minangkabau serta Burma dan Siam. Snouck Hurgronje pernah menulis “Bagi masyarakat Aceh, Penang adalah gerbang menuju dunia dalam banyak hal terutama untuk memasarkan produk mereka langsung menuju Eropa”. Jejak-jejak sejarah yang berkaitan dengan perdagangan, ekonomi, agama dan pendidikan serta nilainilai kehidupan lainnya, antara Aceh dan Pulau Pinang hingga kini masih dapat ditemukan pada beberapa situs serta kawasan yang tersebar di Pulau Pinang dan beruntungnya, sebagian besar masih dirawat dengan sangat baik, seperti yang dilihat langsung oleh Redaksi Lamuri. 

Ada beberapa tempat yang dulunya merupakan tempat bagi orang Aceh di Negeri Malaya tersebut. Selain “Kampung Aceh” yang memang sering dibicatakan orang Aceh yang ke Malasyia. Ada Lebuh atau J a l a n A c h e h terletak pada kawasan inti warisan dunia ( W o r l d Heritage Core Z o n e ) K o t a George Town. P a d a masanya, jalur i n i m e m i l i k i peran penting m e n d u k u n g perkembangan k o t a G e o rg e Town karena pernah menjadi pusat persinggahan Jemaah haji dan pusat perdagangan rempah. 

Pada masanya, Hampir sepanjang tahun Lebuh Acheh menjadi begitu hidup dan semarak oleh kehadiran para Jemaah haji dan keluarga pengantar. Kehadiran dan aktifitas mereka berdampak pada munculnya kawasan perdagangan dengan rumah-rumah kedai sepanjang jalan yang menawarkan beragam kebutuhan. Mulai dari rempah, makanan, buku-buku islam hingga jasa pengurusan haji. Selain itu di sana juga terdapat sebuah mesjid yang diberi nama Mesjid Lebuh Acheh. S e j a r a h “ L e b u h A c h e h ” d a n “Masjid Melayu Lebuh Aceh”, tentu tak bisa dilepaskan dari peran Tengku Syed Hussin Al-Idid, seorang bangsawan sekaligus saudagar asal Aceh keturunan Arab dari Hadramaut, Yaman. Kawasan “Aceh” di Pulau Pinang ini bermula dengan kedatangan beliau pada tahun 1792. Beliau menetap dan berdagang sehingga menjadi pedagang Aceh yang kaya dan sukses ketika Penang baru dibuka oleh Kapten Sir Francis Light. Dengan kekayaan tersebut, Tengku Syed Hussain Al-Idid akhirnya membuka kawasan di Lebuh Acheh. Membangun masjid, menara, rumah tinggal, rumah kedai, madrasah serta kantor perdagangan. 

Berikutnya perjalanan Redaksi ke Pattani Thailand, yang bisa disebut Acehnya Thailand, karena masih adanya konflik bersenjata seperti di Aceh semasa darurat. Redaksi ke Pattani melalui Penang. Dari Penang ke Pattani, redaksi menumpang bus umum. Memasuki perbatasan Penang- Thailand, redaksi melihat banyak polisi di sepanjang jalan. Mereka sedang razia. Namun suasana konflik di selatan Thailand ini tak separah di Aceh. Sesampai di Hatyai, kami menuju Mesjid Yala. Dua hari sesudahnya, kami menuju Pattani, tempat Yala Islamic berada. Perguruan tinggi Islam ini terdapat di bagian ujung Pattani, perbatasan dengan Provinsi Yala. B e n t a n g a l a m d a n s u a s a n a perkampungan antara Provinsi Yala dan Narathiwat mirip sekali dengan suasana di A c e h . H a m p a r a n sawah dan k e b u n k a r e t terlihat dominan selama perjala n a n . Sekolah atau madrasah di t e p i j a l a n dipenuhi anak-anak berseragam sekola h. Yang paling khas adalah anak-anak perempuan berwajah Melayu atau campuran Melayu-Thailand semuanya berjilbab, sangat mirip dengan suasana di Aceh. 

Berbicara tentang adanya kaitan antara Aceh dan Pattani di kawasan selatan Thailand, rasanya sulit dipercaya kalau di kawasan ini akan ditemui jejak-jejak Aceh karena berbagai alasan. Secara geografis, Aceh dan Thailand dipisahkan oleh Selat Malaka dan berhadapan langsung dengan Provinsi Satun, Trang, Krabi, Phuket, dan Phang Nga, dan tidak berbatasan dengan Narathiwat yang berhadapan dengan Teluk Thailand. Dugaan redaksi ternyata salah besar, menurut sesepuh masyarakat yang ada di Pattani-Thailand bahwa di dunia ini hanya ada tiga negeri Darussalam : Aceh Darussalam, Pattani Darussalam, dan Brunei Darussalam. Sebelum jatuh ke Thailand, Kerajaan Pattani Darussalam menguasai Provinsi Pattani, Yala, dan Narathiwat di bagian Thailand dan sebagian kawasan Kelantan dan Perlis di bagian Malaysia. Sekarang redaksi sadari, hubungan antara Aceh dan Narathiwat mungkin dimulai dari Kerajaan Aceh Darussalam dengan Kerajaan Pattani Darussalam dalam berbagai bentuk. Redaksi juga sempat berkunjung ke beberapa pesantren di Pattani yang menyimpan kitab kuno dalam jumlah cukup besar yang berasal dari Andalusia, Arab, Thailand, dan Indonesia. Sekitar 30% koleksi naskah kuno tersebut berasal dari Aceh dan sekitar 70% koleksinya berasal dari provinsi lainnya di Indonesia. 

Di antara koleksi kuno tersebut terdapat Alquran tulisan tangan Syech Nuruddin Ar-Raniry yang ditulis selama lima tahun (1636-1641 Masehi). Terdapat juga beberapa Quran tulisan tangan lainnya dari Aceh di beberapa pesantren tersebut. Selain Alquran, terdapat juga kitabkitab fikih karangan ulama Aceh zaman dulu, seperti kitab Fiqih Sirat Al-Musatqim karangan Syech Nuruddin Ar-Raniry. Sang pemimpin pesantren juga memastikan kepada saya bahwa beliau memiliki sejumlah kitab dari Aceh lainnya yang belum dipajang (masih disimpan) di dalam gudang. Di antara koleksi naskah Aceh lainnya terdapat tiga buku pantun karangan Hamzah Fansyuri. Beliau katakan bahwa pada masa kejayaan Islam Pattani dan Aceh banyak sekali Quran dan kitab-kitab yang ditulis tangan oleh ulama-ulama dari kedua negeri, namun dari segi jumlah lebih banyak ditulis ulamaulama dari Aceh. Tak heran kalau koleksi dari Aceh cukup signifikan jumlahnya di pesantren-pesantren ini. Begitulah napak tilas redaksi mengenai keberadaan ulama Aceh dalam mendakwah islam hingga ke Malasyia dan Thailand. “Ureung Aceh meutaloe wareh, sampoe keudeh u Malaya” 

Pattani, July 2014
 
© 2013 LamuriOnline.Com. Semua Hak Dilindungi.
Create By IT Kreasi. Power By Blogger.