ads1

Oleh : Irma Zakiati

 
Waktu adalah uang. Waktu adalah pedang. Waktu adalah kesempatan. Waktu adalah kehidupan. Dan pada akhirnya waktu adalah kejutan, saat tanpa disangka-sangka dia terputus, meninggalkan kita, untuk tak pernah kembali lagi. Waktu memang seringkali terasa lebih bermakna saat kita sudah berada di penghujungnya, saat sang waktu telah beranjak dan kita hanya bisa menyesali sisa-sisa rencana yang tak sempat terwujud. Berbagai rencana memaksimalkan waktu tentulah tiba-tiba berkelebat melesat bak pelari marathon yang tengah mendekati finish. Kebaikan apa yang bisa saya lakukan? Amal shalih apa yang bisa ditambah? Bahkan ajakan bertamasya di sebuah tempat mewah pun dengan mudah bisa ditampik, nggak penting banget deh… “Sukses atau tidaknya seorang manusia, amat bergantung pada waktu, sebab orang yang bisa memanfaatkan waktunya dengan melakukan hal-hal penting sajalah yang bisa dikatakan sebagai orang sukses.” 

Hal-hal penting bagi setiap individu boleh jadi tidak sama, namun secara umum hal-hal penting dapat dikerucutkan menjadi apa-apa yang mendukung terwujudnya sebentuk tujuan, mimpi atau visi misi hidup seseorang. Maka, sekedar memenuhi hari dengan kesibukan belum tentu membawa seseorang pada kesuksesan karena bisa jadi sibuknya dia menghabiskan waktu nyatanya tidak menyampaikan dirinya pada tewujudnya tujuan, mimpi atau visi misi hidupnya. Bahkan bisa jadi, mendekatinya pun belum. “Kalau tujuan hidup manusia itu bahagia di dunia maupun akhirat, tentu berarti manajemen waktunya harus diarahkan pada segala hal yang bisa mendukung tujuan tersebut.” Semua manusia pada dasarnya akan merugi dalam rentang hidupnya, kecuali mereka-mereka yang mampu mengelola waktu hidupnya berdasarkan hal-hal yang bersifat mengukuhkan keimanan dan dipenuhi amal shalih. 

Ada beberapa masalah besar umat berkaitan dengan pemanfaatan waktu yang bisa membawanya pada kerugian hidup, antara lain : 

• Menyia-nyiakan waktu hingga berlalu tanpa sebuah amal shalih. 
• Berlebih-lebihan dengan kegiatan yang mubah. 
• Sering menunda-nunda sebuah amal shalih, seolah kita punya waktu selama-lamanya. 
• Berlambat-lambat dalam beramal tanpa mengingat bahwa waktu yang tersedia jauh lebih sedikit dari segala rencana, impian bahkan hidup manusia sendiri. 
• Jarang melakukan evaluasi terhadap manajemen waktu hidup kita sendiri. 

Mengupayakan manajemen waktu yang baik dan melakukan evaluasi berkala menjadi sebuah keniscayaan bila kita menginginkan perolehan hidup yang lebih berkualitas, baik di dunia maupun akhirat. Rasulullah menyatakan dalam salah satu haditsnya ada tiga kategori manusia berdasarkan pemanfaatan waktu mereka. Yaitu orang yang beruntung yang hari ininya lebih baik dari kemarin, orang yang merugi yang hari ininya sama saja kualitasnya dengan hari kemarin dan orang yang celaka yang hari ininya ternya berkualitas lebih buruk dari kemarin. “Waktu, tidak seperti resources yang lain, tidak dapat ditabung. Dalam sehari yang 24 jam itu, sekalipun kita hanya memanfaatkannya selama 14 jam saja, sisa 10 jamnya tidak bisa ditabung. Dia akan habis, hangus, entah dipakai atau tidak dipakai oleh kita.” Karena Allah member jatah waktu sama persis pada setiap manusia, 24 jam sehari semalam yang harus dihabiskan dan dilaporkan pula detil penggunaannya, tentulah tak ada pilihan lain bagi kita kecuali semaksimal mungkin memanfaatkannya hanya untuk hal-hal penting dan membawa hidup ini semakin mendekati tujuan yang Allah gariskan. 

Mengingat waktu yang tersedia lebih sedikit dibandingkan rencana, angan dan misi hidup manusia, apa yang kita bisa siasati agar perolehan keuntungan di dunia dan akhirat menjadi lebih maksimal? 

• Mengisi detik demi detik hanya dengan amalan yang bernilai positif, yang sesuai dengan ajaran Allah dan rasul. 
• Di antara banyaknya amalan positif, pilihlah amalan yang paling utama, yang terbaik, yang paling banyak pahalanya atau paling luas manfaatnya. 
• Mengejar amal di waktu-waktu istimewa. 
• Bersegera dalam melakukan amal shaleh, tidak menunda-nundanya dan tidak melambat-lambatkannya. 
• Melakukan kebaikan secara rutin dan berkesinambungan. 

 “Maka apabila kamu telah selesai mengerjakan (sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan yang lain.” (Q.S. Al-Insyirah : 7)
SHARE :
 
Top