“Yakin, bekerja dan sukses”, itulah filosofis yang dipegang oleh Ikhtiar, salah seorang putra asli Aceh Besar yang saat ini telah sukses membangun usaha peternakan ayam petelur.
Telur ayam memang menjadi primadona bagi para entrepreneur untuk dijadikan peluang usaha di bidang peternakan. Selain memiliki untung yang besar, telur ayam juga selalu dibutuhkan dan dicari oleh konsumen.
Ikhtiar sangat tau dalam memilih bisnis yang akan dijalankannya, meskipun secara pengalaman ia belum pernah terjun langsung dalam mengelola bisnis peternakan, akan tetapi semasa kuliah ia telah melalang buana dalam membangun bisnis bersama mitra.
Bermodalkan hal tersebut, saat ini Ikhtiar telah  memiliki satu buah perusahaan perternakan ayam petelur yang diberi nama CV. Pante Bung yang  berlokasi di Indrapuri Aceh Besar dengan pendapatan perharinya telah mencapai dua juta rupiah dan juga sebuah perusahaan yang bergerak di bidang konstruksi dan leveransir dengan nama dagang CV. Satu Harta Konstruksi.
Lahir di Indrapuri Aceh Besar, pada tanggal 28 Oktober 1987, Ikhtiar sejatinya merupakan seorang sarjana Pendidikan Bahasa Inggris di Fakultas Tarbiyah IAIN Ar-Raniry Banda Aceh, akan tetapi ia lebih memilih menjadi seorang pengusaha dibandingkan menjadi seorang guru.
“Saya memilih menjadi pengusaha daripada menjadi seorang guru, walaupun sejatinya profesi guru itu sangalah mulia, saya tetap bisa menjadi guru walaupun tidak mengajar secara formal, di dunia usaha kita dapat membantu pemerintah mengurangi angka pengangguran”, sebut ikhtiar yang dijumpai di tempat usahanya.
Alumni pasantren Oemar Diyan Indrapuri ini, semasa kuliah pernah bekerja sebagai juru masak di Mie Aceh Ayah Barona dan juga sebagai penjual nasi goreng di simpang galon Darussalam. Kemudian ia juga sempat bekerja di salah satu percetakan.
“Saya mencoba berkerja dimanapun saya bisa, karena pengalaman merupakan guru paling  berharga, berkuliah saja tidak akan optimal untuk membangun kualitas pribadi karena di bangku perkuliahan 90 persennya adalah teori” ungkap pengusaha muda ini.
Ikhtiar tidak hanya sukses di bidang akademisi maupun wirausaha, di dunia organisasi Ikhtiar juga pernah dipercayakan sebagai Sekretaris Umum Himpunan Mahasiswa Aceh Besar (HIMAB) dan saat ini masih aktif sebagai pengurus Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Aceh, selain itu, bersama teman-teman kampus Ikhtiar juga membangun sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat University of Ideas Aceh yang bergerak di bidang pendidikan dan penelitian.
Di kampus pun Ikhtiar pernah menjabat sebagai Ketua Bidang English Department Students Association (EDSA), Ketua Bidang Public Relation di Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas (BEMAF) Tarbiyah, kemudian ia juga pernah menjadi Sekretaris Umum di Majelis Perwakilan Mahasiswa Fakultas Tarbiyah, di tingkat Institut ia juga salah seorang pengurus teras di BEMA IAIN Ar-Raniry dan pengurus di UKM Salam.
Ia sedikit bercerita tentang awal berdirinya usaha perternakan ayam petelur, “awalnya ide ini lahir karena saya melihat ketersediaan stock telur ayam di Banda Aceh dan Aceh Besar tidak sanggup memenuhi kebutuhan masyarakat disini, selama ini telur ayam selalu dikirim dari Medan”.
Melihat hal tersebut sebagai sebuah peluang, akhirnya Ikhtiar mencari modal melalui jaringan-jaringan mitra bisnis yang dimilikinya, “modal awal saya mendirikan usaha perternakan ini sekitar seratus juta rupiah”.
Dari modal tersebut Ikhtiar saat ini telah memperkerjakan tiga orang karyawan di peternakan miliknya.
Tentunya, memang tidak mudah dalam membangun sebuah usaha, seperti kata pepatah “berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian”, hal ini juga dialami oleh Ikhtiar.
“Diawal-awal berdiri memang kita kesulitan modal, namun berkat usaha dan karunia dari Allah Swt pelan-pelan dapat teratasi”, sebut mantan Ketua Rohis SMAN 5 Banda Aceh ini.
Ikhtiar juga menuturkan bahwa membangun usaha bisnis di Aceh tidaklah semudah di kota-kota besar yang bahan baku dan penunjang mudah dijumpai.
“Pengusaha disini sulit mendapatkan bahan baku dan bahan penunjang, mungkin ini sedikit masukan untuk Pemerintah Aceh, kalau bisa pemerintah mampu mencari solusi melalui kebijakannya untuk ketersediaan pakan ayam dan juga egg tray (tempat telur karton),” sambungnya.
Menurutnya, bila hal ini dapat diatasi maka akan banyak lahir pengusaha perternak ayam petelur lainnya, sehingga ketergantungan pasokan telur ayam dari Medan dapat teratasi.
Ikhtiar sangat berharap agar pemuda-pemuda di Aceh dapat hidup mandiri secara kreatif dan penuh inovasi, “kalau bukan kita yang membangun daerah Aceh, mau berharap ke siapa lagi?, ini momentum yang tepat bagi pemuda Aceh untuk berkarya dalam membangun negeri, bukan hanya melalui politik tetapi  melalui semangat entrepreneur kita juga dapat memberikan sumbangsih bagi negeri Aceh ini,” tutupnya. (Frd/www.lintasnasional.com)
SHARE :
 
Top