Masa-masa remaja itu m e r u p a k a n m a s a peralihan antara masa anak dan masa dewasa yang berjalan antara umur 11 tahun sampai 21 tahun. Kata Remaja juga berasal dari kata latin "adolensence" yang berarti tumbuh atau tumbuh menjadi dewasa. Istilah adolensence mempunyai arti yang lebih luas lagi yang mencakup kematangan mental emosional sosial fisik , , , dan  (Hurlock, 1992). 

Nah, saat-saat peralihan inilah remaja semain mudah diombang- ombang oleh berbagai hal. Biasanya jika si remaja berkawan dengan orang yang bersifat buruk makan diapun akan ikut buruk, begitupun sebaliknya. Lingkungannya juga sangat berpengaruh dengan jiwa dan pandangannya. Ia mudah terjerumus dalam berbagai hal. Apapun kegiatan yang ada, asalkan bisa menyenangkan jiwa dan hatinya maka dia akan ikut serta. Di samping itu kenakalan remaja tak berdiri sendiri tetapi dipengaruhi banyak faktor, salah satunya tayangan vulgar dan kekerasan di media elektronik seperti televisi dan handphone. Maka dari itu, hemat penulis, dianggap penting membina para remaja-remaja tersebut dalam bidang atau kegiatan yang bermanfaat bagi remaja, agar nantinya remaja juga akan bermanfaat terutama untuk agama, nusa dan bangsa serta berguna bagi para orang tua. 

Lalu, bagaimana bentuk pembinaan karakter remaja tersebut ? 

Saat ini syedara, sangat banyak kegiatan positif yang diadakan oleh berbagai organisasi pemuda ataupun remaja. Di Aceh misalnya ada Pelajar Islam Indonesia (PII), yang focus pada pembinaan pelajar dalam bentuk training dan pengkaderan dalam tiga bagian, yakni Basic, Intermediate, dan Advanced Training. 

Tujuannya agar para remaja bisa mandiri dan berani tampil sebagai pemimpin nantinya atau ringkasnya keterampilan-keterampilan yang dibutuhkan baik dalam bidang keislaman, kepemimpinan, maupun ilmu pengetahuan. Selain itu ada juga Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) yang focus pada pembinaan kader remaja masjid. Di samping dua organisasi tersebut, banyak juga organisasi positif lainnya yang bisa diikuti oleh para remaja.

Cara lainnya, pembinaan karakter remaja tersebut bisa juga dengan mengantarnya ke pesantren- pesantren atau dayah-dayah yang tersebar di berbagai wilayah di Aceh. Hal ini lebih focus untuk pembinaan spiritualnya yang diharapkan para remaja-remaja ini menjadi Tengku atau Ustadz maupun Uztadzah nantinya.

Perlu diketahui, tanggung jawab pembinaan ini tak hanya oleh pemerintah dan guru, tetapi yang lebih penting peran orangtua mendidik anaknya di sebuah keluarga karena keluarga merupakan yang terpenting dalam rumah tangga untuk pembentukan karakter anak tersebut.
Masa peralihan yang terjadi pada remaja sangat membingungkan, dalam masa peralihan ini remaja sedang mencari identitasnya. Dalam proses perkembangannya, masa ini senantiasa diwarnai oleh konflik-konflik internal, cita-cita yang melambung, emosi yang tidak stabil serta mudah tersinggung. Oleh karena itu remaja membutuhkan bimbingan dan bantuan dari orang-orang terdekat seperti orang tuanya.

Dalam ajaran agama Islam pun masalah akhlak mendapat perhatian yang sangat besar sebagaimana sabda Nabi ”Sempurnanya iman seorang mukmin adalah mempunyai akhlak yang bagus”. Dan dalam riwayat lain dikatakan ”Sesungguhnya yang dicintai olehku (Nabi Muhammad SAW) adalah mereka yang mempunyai akhlak yang bagus”.

Oleh karena itu peranan orang tua sebagai pendidik pertama dan utama dalam menanamkan nilai-nilai akhlak karimah terhadap para remaja yang bersumberkan ajaran agama Islam sangat penting dilakukan agar para remaja dapat menghiasi hidupnya dengan akhlak yang baik sehingga para remaja dapat melaksanakan fungsi sosialnya sesuai dengan norma agama, norma hukum dan norma kesusilaan

SHARE :
 
Top