Loading...

Oleh Sri Suyanta Harsa

sumber ilustrasi: langgam.id
Muhasabah 13 Ramadhan 1441
Saudaraku, menghubungkan antara puasa dan pengampunan dosa relatif memadai dengan merujuk pada sebuah riwayat yang sangat populis dari Abu Hurairah ra, sesungguhnya Nabi Muhammad saw bersabda:

من صام رمضان إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه
Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan dalam kondisi iman dan berpengharapan, maka dia akan diampuni dosa-dosa yang telah lalu (Hr. Bukhari dan Muslim).

Berdasarkan normativitas di atas, dipahami bahwa pengampunan Allah terhadap dosa orang-orang yang berpuasa hanya ketika puasanya ditunaikan dengan benar-benar iman dan ihtisaban. Dengan iman akan aman dan amanah. Dalam tataran praksis, menunaikan puasa dengan mempercayai sepenuh hati bahwa tatanan dan tuntutan berpuasa yang diwajibkan oleh Allah merupakan tuntunan kemuliaan diri manusia karena divasilitasi menjadi bertakwa (2:183). Oleh karena itu saat menunaikan ibadah puasa, kita harus ekstra hati-hati dengan mempertimbangkan memperhitungkan segala hal yang dapat mengurangi kualitas puasanya untuk tidak dilakukannya sembari berharap curahan karunia Allah ta’ala.
Dengan demikian harus benar-benar berpuasa seperti puasa yang dilakukan oleh orang-orang khawasul khawas, atau seperti puasanya orang-orang khawas, dan tidak sekedar menggugurkan kewajiban puasa seperti puasanya orang awam, apalagi seperti puasa orang yang hanya berpura-pura saja.
Dalam konteks puasa dan pengampunan dosa itu, maka sejak awal periode pertengahan Ramadhan ini, tema muhasabah ini sudah mengingatkan betapa pentingnya upaya penyadaran diri dan penyingkapan topeng kepalsuan hati. Hal ini dimaksudkan sebagai tahapan untuk memuji Allah dengan kemahapengampunanNya yang sempurna sekaligus menjemput belas kasih kepengampunanNya. Ya Allah ya Ghaffar, ya Allah ya Ghafur, ya Allah ya ‘Afuwun ya Kariim, ampuni dosa-dosa kami ya Rabb ya Mujibassailin.
Dengan demikian, untuk menjemput kepengampunan Allah sehingga seseorang dapat memeluk ketakberdosaan kembali, maka tahapan yang lazim dilakukan adalah. Pertama, sadar diri terhadap kekurangan yang ada dan dosa-dosa yang masih melekat, seraya beristighfar, memohon ampun pada Allah. Meskipun tentang kesalahan dan dosa yang sejatinya mengetahui hanya diri sendiri, tidak orang lain, tetapi rasanya tak seorangpun dari manusia yang luput dari padanya. Maka sebaik-baik orang, bukan yang tidak pernah bersalah dan bukan yang tak melakukan dosa, tetapi yang dengan kesalahan dan dosanya menjadi sadar kemudian bertobat, beristighfar memohon keampunanNya. Astaghfirullahal ‘adhim.
Kedua, menyesal telah mencorengi dan mengotori diri sehingga hati tertutupi dengan topeng sifat rububiah seperti sombong, syaithaniyah seperti suka mengganggu orang lain, hayawaniyah seperti serakah dan sabu’iyah seperti buas beringas, sembari mensucikannya dengan berpuasa, juga mengiringinya berhias dengan sifat mulia dan amal shalih yang dapat dirasakan kemanfaatannya oleh sesama.
Ketiga, berazam tidak akan mengulanginya lagi. Dalam rangka menyempurnakan ikhtiar dalam memohon percikan kemahapengampunan Allah, maka langkah yang juga harus dilakukan adalah bertekad dengan sungguh-sungguh tidak akan pernah mengulangi kesalahan dan tidak akan berbuat dosa lagi.
Bila kesalahan dan dosa itu terkait dengan orang lain, maka kaifiatnya perlu ditambah satu lagi menjadi yang keempat yaitu meminta maaf seraya mengembalikan hak-hak yang harus diterima sesamanya dan atau meminta kehalalannya.
Bulan Ramadhan merupakan kesempatan emas untuk memohon pengampunan dosa dan penunaian puasa menjadi kondisi yang kondusif karena mustahabah bagi orang-orang yang berdoa untuk pengampunan dosanya. Tinggal kitanya mau memanfaatkan bulan Ramadhan atau tidak? tinggal kitanya mau berpuasa atau tidak? tinggal kitanya mau menjemput kepengampunanNya dengan memperbanyak berdoa atau tidak?.
Kini jawabannya berpulang pada kita masing-masing. Tetapi yang pasti hari-hari Ramadhan 1441 ini terus berlalu dan akan berlalu tak akan terulang lagi, kalaupun masih akan datang Ramadhan 1442 tahun depan namun belum tentu masih dalam jangkauan kita. Astaghfirullahal ‘adhim, ampuni dosa-dosa kami ya Rabb, agar tidak membebani hidup kami lagi, sehingga kami bisa menyongsong masa depan yang lebih bahagia membahagiakan, berkah memberkahi kehidupan. Aamiin.
SHARE :
 
Top