Hamdani, S.Pd

Bahasa Indonesia merupakan bahasa pengantar di dunia pendidikan. Itulah antara lain fungsi bahasa Indonesia sebagai bahasa negara. Namun, dalam realitas keseharian dalam berbudaya berbahasa. Pengguna bahasa sering kali mengabaikan aturan-aturan kebahasaan seperti ejaan. Bahkan problema seperti itu dilakukan oleh kaum intelektual. Dalam pemakaian ejaan sering kita menemukan pemakaian huruf kapital yang kurang tepat. 

Bukankah anda seorang penulis buku, peneliti, dosen, guru, insan pers, mahasiswa, atau minimal anda masyarakat pemakai bahasa Indonesia. Karena santunnya suatu bahasa mencerminkan luhurnya budi pengguna bahasa suatu bangsa. Indah sekali bukan? Kesalahan fatal yang dapat merusak citra bahasa Indonesia adalah pada penulisan bahasa layanan SMS melalui Hand Phone (HP) atau android di layar WhatsApp.

Kesalahan berbahasa Indonesia kita dapatkan dalam pemakaian bahasa yang ambiguitas, sering kita temukan pada penggunaan bahasa layanan SMS. Ambiguitas artinya bahasa yang bermakna ganda, yang dapat membingungkan pembaca karena multi tafsir. Seperti bahasa yang sering digunakan oleh pengguna HP ketika menulis SMS. 

Ambigu tidak sama dengan konotasi atau makna sampingan. Lazim disebut dengan makna kias, karena makna kias lebih menyarankan pada pengertian bahasa figuratif atau gaya bahasa. Walaupun demikian, ambiguitas dan konotasi keduanya dilarang keras pemakaiannya dalam bahasa karya ilmiah. Sedangkan bahasa yang bermakna konotasi hanya dibolehkan pemakaiannya dalam karya sastra seperti novel, cerpen, dan puisi. Kadang-kadang juga digunakan dalam bahasa jurnalis untuk menarik perhatian dan membuat pembaca penasaran. 

Contoh kalimat ambigu antara lain: Kucing makan tikus mati. Dalam kalimat tersebut siapa yang mati ? Tikus atau kucing ? Kita dapat memperbaikinya dengan memberikan tanda koma ( , ) pada posisi berikut: a) Kucing, makan tikus mati. Kalimat tersebut berarti ada seekor kucing yang makan tikus sudah mati, b) Kucing makan, tikus mati. Berarti kucing dan tikus tidak saling berinteraksi, tetapi bersifat individualistis, c) Kucing makan tikus, mati. Berarti seekor kucing setelah makan tikus, kucing ini mati. Disebabkan oleh asumsi bahwa tikus mati yang dimakan oleh kucing, sebelum mati kucing telah memakan racun berbahaya. 

SMS adalah singkatan dari bahasa Inggris: Short Message Service. Dalam bahasa Indonesia disebut Layanan Pesan Singkat, dan sebagian orang menafsirkan sebagai Surat Menyurat Singkat (SMS) melalui HP. Memang demikianlah awal kemunculannya SMS hanya ada di program HP. Sekarang SMS juga dapat diakses melalui internet pada program email dan WhatsApp. Banyak memang keuntungan dari SMS ini, antara lain menghemat pulsa, dan pesan lewat SMS dapat diterima dan dikirim di manapun dan kapan saja, karena HP dapat dibawa kemana saja dan dapat dimasukkan ke kantung atau saku pakaian. Jadi pemakaian HP lebih efisien dan praktis. Selain itu, SMS juga lebih menjaga rahasia percakapan di depan umum, karena tidak bersuara seperti bicara langsung. Dalam konteks wacana teknologi seluler dan ekonomi, SMS melalui HP sangat menguntungkan.

Namun, jika SMS dikaitkan dengan wacana kebahasaan ternyata bahasa SMS telah merusak citra bahasa Indonesia yang baik dan benar. Bahasa SMS telah melanggar kaidah penulisan yang tercantum dalam Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan (EYD) dan Tata Bahasa Baku. Bahkan bahasa SMS sangat banyak ragamnya sehingga semakin memperparah kerusakan  bahasa Indonesia. Padahal bangsa Indonesia sedang menggalakkan pemberantasan tuna aksara (buta huruf). 

Atas keprihatinan penulis terhadap problema bahasa di atas, maka penulis melakukan penelitian terhadap beberapa SMS yang terdapat dalam HP beberapa orang kawan yang terlebih dulu penulis minta izin. Serta mengamati setiap bahasa percakapan yang masuk ke ruang WhatsApp penulis, baik yang masuk dalam WhatsApp pribadi maupun percakapan di grup. Selain itu, penulis juga meneliti bahasa SMS di beberapa surat kabar lokal terbitan Aceh. 

Dari hasil survei yang penulis lakukan tersebut membuktikan bahwa sangat banyak pengguna bahasa SMS yang dapat dikatagorikan buta huruf. Walaupun penggunaan bahasa semacam itu disengaja oleh orang yang tidak buta huruf. Kenapa disebut buta huruf, karena dalam penulisan bahasa SMS banyak huruf yang tinggal, kalimat tidak efektif, dan sebagian pengguna HP memang benar-benar buta huruf. Namun, karena telah memakai HP sedikitnya telah berusaha untuk belajar menulis. Sebaiknya bagi orang yang mahir menulis gunakanlah bahasa Indonesia yang baik dan benar. Demi pengembangan bahasa Indonesia sebagai bahasa negara yang kita cintai.

Dari hasil survei saya membuktikan bahwa bahasa SMS itu banyak ragamnya dan merupakan corak yang sangat tidak baku. Juga merupakan bahasa yang sangat di bawah standar bahasa Indonesia yang baik dan benar. Jika diberi bobot nilai hanya mendapat nilai 3. Bahasa semacam itu biasanya merupakan bahasa tingkat anak SD kelas 1 yang baru belajar menulis. Dalam penulisan bahasa tersebut banyak huruf yang tinggal dan sangat jauh dari syarat sebuah kalimat efektif yang mungkin juga membuat sebuah kalimat jadi ambigu. Ambigu adalah salah satu ciri dari kalimat yang tidak efektif.

Selain itu pengirim SMS juga tidak peduli terhadap aturan penggunaan tanda baca yang benar. Seperti tanda titik, koma, dan huruf kapital yang terkumpul dalam Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan (EYD). Aturan kebahasaan telah diabaikan dan di luar kepedulian pengguna SMS tersebut. 

Memang semua orang memahami termasuk penulis dan pembaca bahwa layar monitor HP itu sempit dan kecil. Jika pengguna HP mengetik SMS sesuai kaidah Tata Bahasa Indonesia Baku pasti kalimatnya tidak muat semua. Namun, jika anda menulis SMS gunakanlah kalimat yang lengkap dan standar. Jangan terlalu menyingkat sehingga membingungkan pembaca. Betapa banyak orang kehilangan pekerjaan, karena dipecat oleh kepala kantor yang disebabkan oleh SMS yang bermakna ganda dan dianggap melecehkan atasan. Selain itu, ada juga pengirim SMS yang dipengadilankan, karena dianggap SMS yang bermakna ambigu merupakan pencemaran nama baik seseorang. 

Di akhir tulisan ini penulis mengajak semua pengguna bahasa Indonesia untuk menulis SMS yang standar. Walaupun tidak terlalu baku, minimal tulislah dengan kalimat yang lengkap dan tidak terlalu menyingkat. Demi pengembangan dan pemeliharaan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional

Penulis adalah Guru Bahasa Indonesia SMAN 1 Lhokseumawe

SHARE :
 
Top