Oleh: Anggun Amelia
Mahasiswa Program Studi Psikologi, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh
Momen wisuda sering kali dianggap sebagai puncak kebahagiaan. Di atas panggung, pakai toga lengkap dengan senyum lebar, seorang sarjana kelihatan kayak pahlawan yang baru aja memenangkan pertempuran besar. Tapi begitu tepuk tangan mereda dan ijazah sudah di tangan, tiba-tiba suasana berubah jadi hening yang bikin merinding. Muncul satu pertanyaan berat: "Setelah ini, aku harus ke mana?"Bagi banyak fresh graduate, masa transisi dari kampus ke dunia nyata ternyata enggak seindah kutipan motivasi di Instagram. Sebaliknya, fase ini malah jadi tempat subur buat overthinking. Mikirin masa depan bukan lagi soal ngerencanain karier yang seru, tapi berubah jadi labirin kecemasan yang kayak enggak ada ujungnya.
Menghadapi Kenyataan Bernama "Ketidakpastian"
Kenapa sih lulusan kuliah rentan sekali terjebak overthinking? Jawabannya simple; karena kita kehilangan arah hidup yang biasanya sudah teratur.
Bayangin aja, selama belasan tahun dari TK sampai kuliah, hidup kita punya pola yang jelas. Ada jadwal semester, target nilai, dan tahapan yang pasti dilewati. Kita selalu tahu besok pagi harus ngapain. Tapi setelah lulus, pola itu mendadak hilang. Kita langsung dilempar ke ruang kosong bernama kebebasan mutlak.
Di ruang kosong inilah pikiran kita mulai liar dan bikin skenario terburuk: Gimana kalau 6 bulan ke depan belum dapat kerja? Gimana kalau jurusan kuliah aku ternyata enggak kepakai? Gimana kalau aku ngecewain orang tua?
Beban ini makin berat gara-gara FOMO di media sosial. Tiap kali buka HP, isinya teman seangkatan yang pamer foto ID card kantor baru dengan caption "New journey begins", atau pencapaian LinkedIn yang berkilau. Rasanya langsung panik dan merasa tertinggal, padahal perlombaannya sendiri belum resmi dimulai.
Mengubah Cemas Jadi Kompas
Buat kamu yang malam ini mungkin lagi rebahan sambil menatap langit-langit kamar dengan perasaan cemas, overthinking yang kamu rasain itu valid kok. Itu justru bukti kalau kamu peduli dan pengen bertanggung jawab sama hidupmu. Kamu lagi melewati fase quarter-life crisis, hal yang wajar saat kita mulai mempertanyakan arah hidup.
Tapi, memaklumi rasa cemas bukan berarti kita pasrah dan tenggelam di dalamnya. Overthinking itu merusak karena bikin kita fokus pada hal-hal yang enggak bisa kita kontrol, kayak kondisi ekonomi atau keputusan HRD di perusahaan impian.
Kunci untuk damai dengan fase ini adalah mengubah kecemasan yang abstrak itu menjadi aksi nyata, memecah target besar menjadi langkah-langkah kecil. Mikirin "gimana cara sukses 5 tahun ke depan" pasti bikin kepala mau pecah. Mending fokus ke hal kecil: "Minggu ini aku bisa belajar skill apa ya?" atau "Hari ini aku bisa menyelesaikan berapa lowongan?"
Terima aja kalau jalur kehidupan ini enggak pernah lurus. Banyak orang sukses yang pekerjaan pertamanya melenceng jauh dari jurusan kuliah. Kuliah itu sebetulnya melatih cara kita berpikir logis dan beradaptasi, bukan mengunci profesi kita selamanya.
Batasi ngeliat sisi "sempurna" media sosial. Ingat, apa yang orang lain tampilin di medsos cuma bagian terbaiknya aja (highlight reel), bukan perjuangan berdarah-darah di belakang layar.
Nikmati Prosesnya
Dunia setelah lulus kuliah emang menakutkan, tapi di sisi lain, dunia ini juga penuh dengan kemungkinan baru. Ketidakpastian itu artinya segala hal masih bisa terjadi, termasuk hal-hal baik yang belum pernah kamu bayangin sebelumnya.
Ijazah yang kamu pegang adalah bukti kalau kamu bisa menyelesaikan apa yang sudah kamu mulai. Jadi, ambil napas dalam-dalam. Masa depan enggak perlu ditakuti sampai bikin kamu lumpuh hari ini. Hadapi aja pelan-pelan, selangkah demi selangkah. Kamu enggak terlambat. Kamu cuma lagi berjalan di linimasa kamu sendiri.

0 facebook:
Post a Comment