Melalui Milad Media LAMURI Yang Ke-10 Kami Terus Berbenah Untuk Berbagi Informasi Kepada Pembaca (15 Juli 2010 - 15 Juli 2019) Menuai Makna Dari Peringatan Hari Besar Oleh : Ahmad Faizuddin, M.Ed - Lamuri Online
Loading...

Ada banyak hari-hari besar yang kita peringati setiap tahunnya, baik yang berskala nasional maupun internasional. Berbeda dengan hari-hari besar keagamaan yang mempunyai nilai-nilai sakral dan spiritual, hari-hari besar secara umum diciptakan oleh manusia untuk tujuan-tujuan tertentu. Oleh karena itu, jangan hanya ikut- ikutan saja merayakannya tanpa mengetahui sejarahnya. Sebuah tanggal bisa diperingati sebagai hari besar karena adanya momentum tertentu dalam sejarah. Hari Valentine (Valentine Day) yang diperingati setiap tanggal 14 February, misalnya, bertujuan untuk mengingat kematian Santo Valentine, seorang Imam Gereja Katolik Roma di abad ke-3 Masehi. Momen ini menjadi ladang bisnis besar bagi perusahaan coklat dan kartu ucapan (greeting cards) untuk memasarkan produk-produknya. 

Contoh selanjutnya Hari Bahasa Ibu Internasional (International Mother Language Day) yang diperingati setiap 21 February. Tanggal ini ditetapkan oleh UNESCO sejak tahun 1999 berdasarkan usulan Negara Bangaladesh pada sidang umum PBB. Menurut sejarah, pada tahun 1952 Bangladesh (Pakistan Timur) masih merupakan bagian dari Pakistan yang menjadikan bahasa Urdu sebagai bahasa Negara. 

Para mahasiswa dari Universitas Dhaka bersama masyarakat umum menuntut agar bahasa Ibu mereka, yaitu Bengali, juga dijadikan bahasa resmi sehingga p e c a h l a h d e m o b e s a r y a n g menewaskan 5 orang dan melukai banyak orang. 

Usaha mereka patut di acungkan jempol. Kita harus menghargai bahasa Ibu kita sendiri. Kalau bukan kita yang menghargai diri sendiri, siapa lagi? Hari Dongeng Sedunia (World Storytelling Day) diperingati setiap tanggal 20 Maret. Tradisi ini berakar dari hari nasional mendongeng di Swedia, yang dikenal dengan istilah alla berattares dag (All Storytellers Day) pada tahun 1991-1992. 

Peringatan Hari Dongeng Sedunia ini menjadi penting di kala kemajuan teknologi semakin canggih. Dulu tidak ada televisi dan smartphone sebagai hiburan. Para orang tua dengan kreatifnya mengantarkan tidur anak-anak mereka dengan dongeng-dongeng penuh imaji dan petualangan. Hari Ketawa Sedunia (World Laughter Day) diperingari setiap awal bulan May. Konon sejarahnya, perayaan ini dipelopori oleh Dr. Madan Kataria dari Mumbai, India, pada 11 January 1998. Beliau adalah pendiri Laughter Yoga di seluruh dunia. Terlepas dari kita mau merayakannya atau tidak, ternyata ketawa dapat mencegah hormon penyebab stress dan meningkatkan sel kekebalan tubuh. 

Menurut para ahli, tertawa juga membuat jantung sehat karena dapat melatih otot diafragma. 100 kali ketawa sama dengan 15 menit bersepeda. Jika tertawa selama 15 menit akan membakar 50 kalori dalam tubuh. Masih banyak lagi hari-hari besar menarik lainnya. Jika di bulan Juni ada Hari Ayah (Father's Day) maka di bulan December ada Hari Ibu (Mother's Day). Ada juga Hari Tanpa Televisi (23 July) dan Hari Anak Internasional (20 November). Di Indonesia pun kita mempunyai hari besar nasional Republik Indonesia. Diantaranya adalah: Hari Nelayan Indonesia (6 April), Hari Pendidikan Nasional (2 May) dan Hari Dokter Indonesia (24 October). 

Apa pun bentuk peringatan hari-hari besar, jangan hanya dijadikan sebagai seremonial belaka. Momentum istimewa tersebut hendaknya menjadi wahana untuk mengintrospeksi diri untuk berbuat yang lebih baik di masa yang akan datang. Apa yang telah kita capai dalam perjalanan dan langkah panjang yang kita lalui melalui momentum hari-hari besar tersebut hendaknya memberikan makna lebih dalam kehidupan sehari-hari. 

Mungkin suatu saat nanti, kalender kita akan penuh dengan peringatan hari-hari besar setiap harinya. Harapan kita bersama tentunya hari-hari besar tersebut merupakan momentum ke arah perubahan dan perbaikan yang lebih baik. Wallaahua'lam. 

© Akhi (Gombak: 22.09.2015, 9:30 p.m.)
SHARE :
 
Top