ads1

Mendidik merupakan sebuah proses pengalaman kemanusiaan yang hanya dapat dicapai oleh manusia bila mengedepankan perasaan cinta kasih, simpati, solider termasuk didalamnya hal yang berkenaan dengan renungan batin. Efeknya akan memperkaya dan memperhalus jiwa manusia yang merubah peradaban dan akan mempertinggi taraf kehidupan.Artinya mendidik tidak akan sempurna bila tidak dibarengi dengan cinta, simpati dan perhatian dari pendidik mereka baik itu orang tua, guru dan lain sebagainya, anak akan tertarik kepadanya dan pasti mendengarkan semua yang diajarkan kepadanya dengan pendengaran hati.

Seyogyanya pendidik melatih dan membiasakan diri untuk mencintai anak serta menjauhkan diri dari segala perbuatan yang dapat membuat anak marah dan menjauh,seperti mencaci maki didik anak, sanksi yang berulang-ulang, menyepelekan, serta mengenyampingkan kebutuhan primer mereka,jika memang sanksi harus diberikan hendaknya diberikan dengan bijaksana agar cinta anak tidak pudar karenanya. Ingatlah kisah Rasulullah SAW tentang sentuhan tangan mulia beliau kepada anak-anak,dalam hadist shahih yang diriwayatkan oleh An-Nasa’i dari Anas dijelaskan, suatu hari Rasulullah Saw mengunjungi kaum Anshar, beliau mengucapkan salam kepada anak-anak mereka lalu membelai kepala mereka. 

Hati adalah kefalsafahan yang merupakan lapisan jiwa tertinggi yang hanya dapat dicapai apabila manusia secara khusus menyediakan waktu untuk merenungkan hakikat kehidupan dunia sampai hakikat Ilahiah, dan mengedepankan hubungan manusia dengan Tuhan.Apabila ekspresi hati itu lengkap, kuat, utuh dan banyak isinya Insya Allah akan menjadi pendidik yang agung, karena kemanusiaanlah yang terpancar dari hati pendidik.Sabda Rasulullah Saw : “Tidak akan disayang orang yang tidak memiliki kasih sayang” (Muttafaqun’alaih). 

Mendidik dengan hati nurani tujuannya supaya terjadi sinergi antara otak (kognitif ) dengan hati (afektif),yang merupakan investasi spiritual.Sesuai dengan hadist Rasulullah Saw : Tidak akan disayang yang tidak memiliki kasih sayang ( Muttafaqun ‘alaih), artinya bila dalam mendidik kita kedepankan kasih sayang,anak akan tumbuh menjadi anak yang penyayang,jauh dari segala hal yang mengotori jiwa hatinya,karena setiap anak memiliki potensi yang berbeda,maka berlaku adillah dalam hal mendidik,semua anak adalah pandai, bila pendidik tidak mendidik dengan hati nurani yang penuh kasih sayang, maka itu artinya guru tidak mampu menggali potensi peserta didik. 

Bagaimana kiat pendidik supaya maksimal mendidik dengan hati nurani ?. 

 Tidak mengucilkan dan meremehkan,yaitu dengan tidak membiarkannya tanpa memberi penghargaan saat dia meraih kesuksesan atau memberi sanksi yang mendidik bila dia gagal. 

 Hindari kekerasan,yaitu ketika anak bersalah kita tidak memberikan hukuman yang keras dan kejam,sehinnga anak akan tumbuh menjadi anak yang tidak memiliki pendirian. 

 Tidak diskriminatif,yaitu tidak membedakan anak dalam segala hal,dan akan menumbuhkan anak menjadi pencemburu,pembenci dan pendendam. 

 Perhatikan pertanyaan anak,karena itu proses pembelajaran panjang dalam hidupnya. 

 Motivasi,yaitu memberi semangat kepada anak dengan sikap atau ucapan yang tidak melemahkan semangatnya yang membuat anak mudah menyerah. 

 Terbukalah kepada anak ketika menjawab pertanyaan yang sesuai dengan tingkatan pemahaman anak. 

 Ajaklah anak untuk sering berdiskusi supaya anak ketika dewasa akan menghargai. 

 Biasakan anak berterus terang,yaitu dengarkan dengan seksama apa yang ingin ia katakan dan buatlah agar anak merasa kita selalu ada untuknya. 

 Lihatlah anak jangan hanya mendengar dengan telinga tapi gunakan seluruh bahasa tubuh,pastikan kita benar-benar merasakan apa yang anak rasakan,bila perlu ulangi yang dia katakan untuk memperlihat pemahaman kita. 

 Taruh simpati kepada anak baik dengan sentuhan atau lainnya,misalnya denagn meletakkan tangan kita diatas bahunya. 

 Janganlah berdebat dengan menyombongkan diri,atau terus menerus menasehatinya. 

 Hindari sesabar mungkin menasehati anak didik bila sedang marah. 

 Hindari menggunakan kalimat menghina,seperti kamu nakal,jahat,bodoh dan sebagainya. 

 Perhatikan kemajuan dan kebaikan anak,jangan hanya memusatkan pada kesalahan anak. 

 Jelaskan pada anak alasan pelarangan,karena akan menenangkan hatinya. 

Guru sebagai garda depan kemajuan satu bangsa dan negara,adalah kewajiban menjadikan dirinya sebagai sosok teladan dan mampu mendidik dengan hati nurani, jangan sampai keliru dalam mendidik,karena pada waktunya nanti, ketika anak tumbuh dewasa, anak akan menghadapi benturan dalam kehidupannya dan kita semua berharap anak didik kita menjadi manusia yang mencapai keinginannya dalam hal positif, cerdas intelektual dan spiritual. 

SELAMAT HARI ANAK NASIONAL,,,,, 

Sumber referensi : Hassan Syamsyi Basya cara jitu mendidik anak

Penulis merupakan Guru SDN 1 Indrapuri, Aceh Besar
SHARE :
 
Top