Oleh: Ikhbaluddin

 

Ilustrasi

Allah سبحانه و تعالى berfirman dalam Al Qur’an Surah Al Baqarah Ayat 185 :

شهر رمضان الذي أنزل فيه القرآن هدى للناس وبينات من الهدى والفرقان...

“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur 'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)…”

Terkait Ayat tersebut, saya ingin menyampaikan tiga hal yang terkandung di dalamnya, yakni tentang Bulan Ramadhan, Al Qur’an, dan kebenaran ilmiah.

Pertama terkait bulan Ramadhan. Dari perspektif kajian antropologi, penamaan bulan dalam tradisi Bangsa Arab bahkan Arab kuno mengacu pada kondisi alam dan tradisi sosial masyarakat dimana bulan tersebut berlangsung, dan bahkan nama-nama bulan yang dikenal saat ini dengan bulan Hijriah sudah ada sejak sebelum Nabi Muhammad , hanya saja pada saat itu belum disusun teratur seperti saat ini. Sebagai contoh penamaan Bulan Muharram dimana pada bulan tersebut sebagaimana tradisi sejak zaman Arab kuno diharamkan untuk berburu, berperang, dan membunuh. Berikutnya Bulan Shafar, dimana pada bulan tersebut dalam tradisi Arab adalah waktunya berjalan/bepergian untuk berdagang, berburu, dll dan termasuk Bulan Ramadhan yang secara harfiah berarti panas yang membakar, dimana kondisi pada saat bulan tersebut di kawasan jazirah Arab matahari bersinar sangat terik dan sangat panas, bahkan digambarkan sampai bisa membakar kulit, sehingga bulan tersebut oleh sebagian Da’i dimaknai juga sebagai bulan untuk membakar dosa.

Nah, Bulan Ramadhan itu sendiri sudah ada sejak zaman Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam, bahkan Allah سبحانه و تعالى memulaikan bulan ini dibandingkan bulan-bulan yang lain, dimana Allah سبحانه و تعالى menurunkan kitab-kitab-Nya kepada para Nabi terdahulu dalam bulan tersebut. Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir penjelasan Surah Al Baqarah Ayat 185 tersebut mengutip Hadis dari Imam Ahmad ibnu Hambal dari Qatadah dari Abul Falih dari Wasilah bahwa Rasulullah  bersabda “Lembar-lembar (peringatan) Nabi Ibrahim diturunkan pada permulaan malam Ramadhan dan kitab Taurat diturunkan pada tanggal 6 Ramadhan, dan kitab Injil diturunkan pada tanggal 13 Ramadhan, sedangkan Al Qur’an (pertama turun) pada tanggal 24 Ramadhan”, dalam riwayat lain dari Jabir ibnu Abdullah disebutkan bahwa kitab Zabur diturunkan pada tanggal 12 Ramadhan dan kitab Injil pada tanggal 18 Ramadhan.

Hikmahnya apa? Bulan Ramadhan sudah dimuliakan sejak Nabi Ibrahim dan seterusnya dengan diturunkan Kitab-Kitab Allah di dalamnya, dan Bulan Ramadhan menjadi lebih mulia lagi atau istimewa sehingga disebut sebagai “sayyidusy shuhur” penghulunya bulan ketika di dalamnya juga diturunkan Al Quranulkarim dan perintah puasa.

Hikmah berikutnya adalah Al Qur’an diturunkan pada akhir Ramadhan, sedangkan kitab yang lain Taurat, Zabur, dan Injil secara berurutan mulai dari awal Ramadhan. Al Qur’an diturunkan diakhir Ramadhan kepada Nabi terakhir, dan kepada umat akhir zaman pula. Apa hikmahnya yang dapat dipetik? Allah سبحانه و تعالى sebagai pencipta kita makhluk-Nya adalah Maha Tahu bahwa hambanya atau manusia diakhir zaman ini atau sering disebut sebagai manusia modern sangat suka atau mengagungkan kemampuan penalarannya dalam mencari kebenaran, dimana kebenaran itu sendiri menurut manusia modern adalah sesuatu yang dapat dibuktikan secara ilmiah, sesuatu dikatakan ilmiah jika bersandar pada penalaran ilmiah pula. Penalaran ilmiah memiliki dua pondasi berfikir yakni berfikir secara logis dan analitis. Sesuatu yang tidak dapat dinalar atau tidak sesuai dengan nalar ilmiah maka tidak disebut sebagai kebenaran, begitu menurut sebagian manusia modern yang kecenderungan berfikirnya sekuler bahkan ateis. Menurut Jujun S Suriasumantri dalam buku Filsat Ilmu, bahwa ditinjau dari hakikat usahanya dalam menemukan kebenaran, maka dapat dibedakan dua jenis pengetahuan, yaitu pengetahuan yang didapatkan sebagai hasil usaha aktif dari manusia untuk menemukan kebenaran, baik melalui penalaran maupun kegiatan lain seperti perasaan maupun intuisi. Di pihak lain terdapat bentuk pengetahuan yang bukan merupakan kebenaran yang diperoleh dari hasil usaha aktif manusia, pengetahuan tersebut berupa Wahyu yang diturunkan oleh Allah سبحانه و تعالى kepada para Nabi-Nya melalui Malaikat.       

Lalu apa hubungannya Al Qur’an diturunkan di akhir zaman dengan kebenaran ilmiah atau ilmu pengetahuan modern. Begini penjelasannya, sebagaimana telah disebutkan diawal bahwa kecenderungan manusia modern yang mengagungkan rasio akalnya dalam berfikir dengan mengabaikan Wahyu. Menurutnya Wahyu tidak ilmiah, nah disinilah Allah سبحانه و تعالى seperti ingin menunjukkan bahkan sekaligus menantang nalar manusia untuk membuktikan bahwa Al Qur’an yang diturunkan di akhir zaman ini tidak bertentangan dengan penalaran ilmiah manusia, bahkan secara timbal balik Al Qur’an dapat dibuktikan kebenarannya, maksudnya kebenaran Al Qur’an dapat diperoleh dari dua cara yakni pertama dengan menjadikan Al Qur’an sebagai sumber pengetahuan primer, sehingga lahirlah berbagai disiplin ilmu. Hal ini dilakukan oleh para ulama sekaligus ilmuan pada zaman dulu seperti Ibnu Sina, Ibnu Rush, Al Jabbar, Al Biruni, dan lainnya. Mereka menggunakan Al Qur’an sebagai sumber pengetahuan sehingga lahirlah berbagai disiplin ilmu yang kita kenal saat ini seperti matematika, filsafat, biologi, kedokteran, astronomi, sastra, sejarah, sosiologi, dan lain sebagainya.

Cara yang kedua untuk membuktikan kebenaran Al Qur’an adalah melalui pengetahuan yang berlandaskan pada proses penalaran manusia itu sendiri dan terlepas dari Wahyu, namun pada akhirnya justru pembuktian kebenarannya berujung pada Al Qur’an, sehingga sebagian dari ilmuan tersebut menyatakan diri beriman (masuk Islam), salah satu contoh yang sangat populer adalah Prof. Maurice Bucaille ilmuan anatomi dan ahli bedah dari Prancis dengan bukunya berjudul Bible, Al Qur’an dan Ilmu Pengetahuan Modern. Bermula pada saat beliau meneliti mumi jasad Firaun, dan menemukan dalam paru-paru Firaun terdapat garam. Pertanyaannya bagaimana bisa seseorang yang dinyatakan meninggal secara normal tapi dalam paru-parunya ada garam? Ditengah kebingungannya atau kemandegan berfikirnya dia bertemu dan bercerita dengan ilmuan Islam, lalu ilmuan Islam menyebutkan bahwa hal tersebut sudah diceritakan dalam Al Qur’an sejak ribuan tahun yang lalu, dan dia disarankan untuk membaca Al Qur’an khsusus ayat yang terkait Firaun dan Nabi Musa, bahwa Firaun mati karena ditenggelamkan oleh Allah سبحانه و تعالى di laut merah, jadi fakta tersebut dibuktikan kebenarannya dalam Al Qur’an. Masih banyak lagi para ilmuan barat yang menyatakan kebenaran Al-Qur’an secara ilmiah setelah meneliti dan mengkonfirmasikan temuannya dalam Al Qur’an.

Berdasarkan penjelasan seingkat di atas dapat disimpulkan bahwa Al Qur’an tidak bertentangan dengan zaman dan tidak kontradiksi dengan kebenaran ilmiah (ilmu pengetahuan), bahkan menurut Prof. Bucaille Al Qur’an adalah kitab yang paling konsisten dibandingkan kitab-kitab yang lain. Subhanallah… itu sebabnya Al Qur’an Allah turunkan diakhir zaman untuk menjadi petunjuk bagi manusia (hudanlinnas), bukan hanya diperuntukkan bagi Nabi Muhammad  dan para sahabat saja, juga bukan hanya untuk masa kini, tapi Al Qur’an menjadi petunjuk bagi jalan yang benar hingga akhir zaman (kiamat tiba). Selain itu, Al Qur’an jadi pembeda (furqan) dalam lanjutan Ayat tersebut, pembeda antara hak dengan batil, baik dengan buruk, mana yang indah dan mana yang jelek, hal ini juga berkorelasi dengan kajian filsafat modern yakni logika, etika, dan estetika. Logika terkait benar dengan salah, etika terkait baik dengan buruk, dan estetika terkait mana yang indah dan mana yang buruk. Allahuakbar walillahilham.

Oleh karenanya, manfaatkan momentum Bulan Ramadhan yang sebentar lagi akan datang, sebagai bulan diturunkan Al Qur’an untuk mengkaji, mendalami, dan mentadabburinya dari berbagai aspek. Selain menambah amalan ibadah yang dilipatgandakan oleh Allah سبحانه و تعالى juga menambah wawasan, ilmu pengetahuan serta hikmah, karna Al Qur’an adalah sumber dari segala sumber ilmu. Wallahu’alam bisshowab

(Jatinangor, 11 Sya’ban 1442 H / 25/03/2021)               

SHARE :
 
Top