Loading...

Oleh Haris Hendrik

Mungkin sebagian dari kita banyak mengetahui data yang dikeluarkan oleh UNESCO di tahun 2016 yang menjelaskan tentang bagaimana minat baca di Indonesia berada pada level yang sangat menyedihkan. 0,0001 % atau setara dengan 1 : 1000 orang yang memiliki minat baca, mewakili bagaimana Indonesia memandang kegemaran membaca sebagai aktivitas yang membosankan dan cenderung tidak menyenangkan, implikasi dari hal ini menunjukkan betapa mengkhawatirkannya nasib bangsa kita kedepannya, jika hal ini tidak dapat diperbaiki. Kita semua sepakat apabila rendahnya minat baca di Indonesia terus dipertahankan,  bukan hal yang tidak mungkin Indonesia tetap berada pada level negara berkembang. 

Namun, ada yang luput dari pandangan kita tentang faktor rendahnya minat baca di Indonesia, yaitu faktor internal dan eksternal. Faktor internal datang dari diri kita sendiri, bagaimana kita meletakkan kegemaran membaca sebagai sebuah hal yang harus diprioritaskan, dan ini merupakan faktor yang sangat umum kita dengar sebagai alasan mengapa minat baca di Indonesia masih sangat rendah. Namun kita luput dengan faktor eksternal, dimana faktor ini juga memainkan peranan yang amat signifikan terkait rendahnya minat baca di Indonesia. 

Faktor eksternal tersebut meliputi aksesibilitas pendidikan, fasilitas pendidikan, dan problematika kemiskinan menjadi hal mendasar terkait rendahnya minat baca di Indonesia. Hal ini terbukti ketika penulis mendapatkan kesempatan untuk melakukan aksi sosial di perbatasan Indonesia dengan Malaysia atau tepatnya di Entikong, Kalimantan Barat, masih banyak adik-adik kita, penerus masa depan bangsa Indonesia, tidak bisa membaca, menulis dan bahkan berhitung. 

Hal ini diperkuat lagi dengan data BPS di tahun 2019 yang menunjukkan 1,9 % penduduk Indonesia pada rentang usia produktif mengalami buta huruf. Mungkin terlihat sebagai sebuah angka yang kecil, tetapi jika kita kalkulasikan dengan 280 juta penduduk Indonesia,  maka ada 4,1 juta penduduk yang buta huruf. 

Bayangkan saja, apabila 4,1 juta penduduk Indonesia ini mampu membaca, maka angka minat baca di Indonesia akan naik atau mampu berkontribusi dalam data statistik angka minat baca di Indonesia.  Sehingga, narasi yang coba dibangun selama ini, hendaknya harus direvisi kembali, bagaimana seharusnya kita sebagai pemuda penggerak literasi di Indonesia menghadirkan perspektif pendidikan inklusif sebagai hal yang harus kita konsiderasi bersama. 

Bicara tentang literasi erat kaitannya dengan pendidikan, ketika membahas tentang faktor minat baca yang rendah, sejatinya problematika mendasar tidak bicara pada tataran minat saja, lebih daripada itu, ada hal – hal yang harus dikonsiderasikan terutama terkait kemampuan anak-anak Indonesia dalam membaca. 

Pendidikan inklusif berperan dalam menghapus dogma kasta dalam pendidikan itu sendiri, sehingga setiap anak Indonesia berhak dan layak akan pendidikan yang berkualitas. Pemuda sebagai ujung tombak perwujudan pendidikan berkualitas, memiliki peranan amat penting dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa, khususnya dalam upaya meningkatkan minat baca di Indonesia dengan instrumentasi perwujudan sinergitas dalam memperbaiki faktor internal dan eksternal dari rendahnya minat baca tersebut. 

Maka daripada itu, diperlukan sinergitas bersama antara pemuda Indonesia dalam mewujudkan pendidikan inklusif tersebut. 

Kolaborasi kebaikan terintregrasi dalam menciptakan wadah berkumpulnya pemuda Indonesia dapat direalisasikan dengan manajemen strategis berupa  upaya pembentukan komunitas sosial yang bergerak dalam bidang pendidikan yang berpedoman pada penguatan literasi, sehingga upaya meningkatkan minat baca tidak lagi hanya berada pada tataran edukasi semata, tapi lebih dari itu, ada nilai praktik berupa pengajaran membaca, menulis dan menghitung bagi anak-anak yang tidak mendapatkan akses pendidikan tersebut yang kemudian diimplementasikan guna mendukung tujuan yang hendak dicapai. 

Upaya dalam melaksanakan intregrasi pendidikan inklusif kedalam gerakan sadar literasi adalah dua kombinasi yang paling tepat dalam menurunkan buta huruf dan sekaligus meningkatkan minat baca di Indonesia. Hal ini dikarenakan, ada upaya sinergitas bersama dalam menghapuskan dua faktor utama yang menjadi alasan literasi di Indonesia begitu rendah, yaitu kapabilitas anak-anak Indonesia dalam membaca dan minat membaca anak-anak Indonesia itu sendiri. 

Sejatinya ketika kita mampu menutup dua keran permasalahan minat baca di Indonesia ini dengan optimal, tentu asa yang selama ini kita perjuangkan akan semakin dekat pada titik pencapaian cita-cita ibu pertiwi. Ditambah lagi, kita hanya memiliki waktu 10 tahun lagi sebelum tahun 2030, dimana kita memiliki janji bersama dalam mewujudkan 17 poin pembangunan berkelanjutan, khususnya poin nomor 4 tentang “Pendidikan Berkualitas”. 

Sebagai penutup, penulis mencoba mengajak pembaca untuk merenungkan kembali tentang makna kemerdekaan yang selama ini kita raih, sudah 75 tahun Indonesia merdeka, yang mana usia negeri kita tercinta ini sudah tidak muda lagi untuk ukuran sebuah negara. 

Namun, problematika yang berkaitan dengan pendidikan masih saja menjadi pekerjaan rumah bersama bagi kita semua. Apalagi masih banyak data di lapangan menunjukkan, minat baca di Indonesia masih sangat rendah dan ditambah lagi tidak semua anak – anak Indonesia memiliki kemampuan membaca yang artinya juga memberikan sumbangsih tinggi terhadap minat baca itu sendiri, karena pelaku kegiatan masih sangat kecil, ditambah dengan minat baca yang masih sangat rendah.

Penulis menulis esai ini dengan harapan mampu menghadirkan perspektif baru tentang menggiatkan kegiatan literasi di Indonesia, tapi dengan apa yang telah penulis liat dalam kehidupan nyata, tentu menghadirkan perspektif baru bagi penulis dalam melihat problematika rendahnya minat baca di Indonesia, sehingga menjadi tanggung jawab dan moral pribadi bagi penulis untuk membagikan esai ini sebagai perspektif baru bagi pembaca yang kemudian melakukan revolusi terhadap kampanye literasi yang selama ini ditekankan hanya sebatas pada permasalahan minat saja. 

Akhir kata, kolaborasi kebaikan terintregrasi harus dijalankan dengan kemauan yang kuat dan dedikasi yang tinggi, karena pada akhirnya yang menikmati hasil dari kerja keras itu adalah kita semua. Maka, ayo kita revolusikan.

Penulis merupakan Finalis Duta Bahasa Sumatera Barat 2020
SHARE :
 
Top